Di tengah pesatnya
perkembangan dan inovasi musik dunia, tak terkecuali di tanah air, penyanyi debutan eks semifinalis Lomba Cipta Lagu Remaja 88-89, Krisna Mega justru menawarkan sebuah tiket perjalanan menuju mesin waktu yang menyenangkan. Era 80-an adalah era inovasi, sebuah era dimana insan-insan musik banyak melakukan penemuan, eksperimen, dan lain sebagainya. Produk yang lahir pun menarik, di dunia kita mengenal Duran-Duran atau Depeche Mode yang mengembangkan sebuah pembaruan yang disebut new wave, dan masih banyak yang lainnya. The Police membawa aroma reggae dan punk ke dalam musik mereka yang menjadikannya populer. Akhir 80-an menginjak awal 90an, adalah era keemasan bagi lagu-lagu semacam “Through The Fire” –nya Chaka Khan, “After The Love Has Gone”-nya Earth, Wind and Fire dan masih banyak lagi yang kerap kali terdengar lewat radio-radio swasta di seluruh tanah air.
Tapi bagaimana di Indonesia? Tahun 80-an adalah tahun terbaik bagi pembaruan di musik, setelah angkatan Koes Plus, The Favorites yang redup, tergantikan dengan generasi baru seperti Fariz RM, Chandra Darusman, Guruh Gypsy, termasuk di dalamnya ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors (LCLR) yang membidani banyak penulis lagu dan penyanyi luar biasa. Menginjak akhir 80 ke-90an muncul eksponen-eksponen baru dari Kla Project dengan lagu “Yogyakarta”-nya, sementara Fariz RM makin melambung lewat lagu “Barcelona”.
Eksistensi lagu-lagu klasik 80-90an ternyata tak berhenti sampai era tersebut. Sampai hari ini pun kita bisa mendengar lagu-lagu 80-90an lewat stasiun radio swasta di tanah air. Dan lebih menariknya lagi, peminat musiknya tak hanya mereka yang besar di era itu, namun ternyata menurun ke generasi – generasi setelah itu. Ini kemudian dipicu oleh munculnya banyak revivalist dari band/grup hari ini yang mengambil elemen 80-90an. Di tanah air saja, kita mengenal The Upstairs atau Goodnight Electric sebagai contoh yang baik dari grup yang meneruskan estafet esensi 80-an untuk pendengar yang lebih muda.
Krisna Mega tak hanya penyuka musik 80-an, ia pula adalah saksi semua kegemilangan era itu. Besar di tahun 80-an, pria yang kini sehari-harinya adalah seorang akuntan profesional di sebuah perusahaan swasta nasional sudah terlibat dengan musik sudah dimulai sejak remaja. Kegemaran akan musik telah menarik minatnya untuk belajar bermain gitar dan piano secara otodidak. Dalam pergaulannya dengan kawan-kawan bermusik semasa remaja, Krisna juga telah menulis banyak lagu yang diantaranya masuk sebagai semifinalis di ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors tahun 1988 dan 1989. Ajang itu membuat namanya mulai bersemi. Pada kesempatan itu, dirinya banyak membuat karya pop yang brilian.
Dan kini, setelah mengendap selama sekian dekade di gudang ide yang hampir berdebu, Krisna Mega berhasil mengumpulkan artefak-artefak berharganya, yang kemudian diaransemen ulang dengan beberapa musisi potensial terbaik tanah air, dan hasilnya adalah sebuah kemasan apik, retro namun modern, lama namun baru, oldie but goldie.
“Saya menamakan karya saya sebagai pop dewasa,”ujar Krisna Mega, menjelaskan tentang konsep musiknya hari ini. Beberapa buah karya yang disebut sebagai “Pop Dewasa” atau “Mature Pop” adalah sebuah konsep musik yang tentunya diharapkan dapat masuk ke dalam segmen kaum mapan yang menyukai lagu-lagu dari kejayaan musik era 80-90-an.
Sedangkan kemasan modern yang ditawarkan diharapkan dapat merangkul pendengar lebih luas lagi yaitu generasi lebih muda yang kerap mencari alternatif lain di luar musik-musik arus utama yang menampilkan keseragaman belaka.
Karya-karya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah album ini memuat rhythm dan beat yang amat sangat bervariatif, dari mulai cita rasa fusion (“Indah”, “Kau, Hujan dan Rindu”), swing jazz (“Setahun Yang T’lah Berlalu), disko (“Malam Berdua”), latin-samba (“Pemusik Kecilku”), kesemuanya dikemas ke dalam ramuan pop.
Lalu seperti apakah gaya musik dari Krisna Mega?
dari lagu-lagunya, dapat terlihat gaya bermusik Krisna Mega banyak dipengaruhi oleh musisi-musisi terbaik 80-an, dari mulai Fariz RM, KLA Project, sampai David Foster, Babyface dan Diane Warren.
“Saya mengharapkan timbul perasaan dan suasana kehangatan, persahabatan juga semangat ketika orang mendengar karya saya, “ungkap Krisna Mega.
Ibarat masuk ke mesin waktu dan Krisna sebagai pemandunya akan menerangkan satu demi satu perjalanan musikalnya, juga perjalanan musik Indonesia di tahun 80-90an dengan menghadirkan satu paket audio yang terlihat lama namun tetap enak didengar karena aransemennya yang baru.
“Ini adalah dokumentasi saya, dan sangat senang bila pendengar musik di tanah air bisa mengapresiasi karya saya dengan baik, “ujar penulis lagu yang juga mengidolakan The Beatles Queen juga Genesis ini.
Semoga karya Krisna Mega bisa diterima dengan baik dan memberi warna di kanvas industri musik tanah air.
ABOUT KRISNA MEGA
Official website: www.krisnamega.com
Facebook: krisna.mega
Twitter: @krisna_mg
Soundcloud: krisna_music

0 komentar:
Posting Komentar